
Mendukbangga/Kepala BKKBN Wihaji (dua dari kiri) dalam kolaborasi untuk keluarga Indonesia tangguh bebas stunting bersama Kitabisa di Jakarta, Kamis (17/9/2026). ANTARA/Lintang Budiyanti Prameswari.
Jakarta (ANTARA) - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji mengatakan risiko stunting tidak hanya berkaitan dengan kondisi ekonomi keluarga, karena orang tua dari golongan mampu dapat memiliki anak stunting apabila aspek pengasuhan tidak diperhatikan secara optimal.
Menurut Wihaji, kondisi tersebut dapat terjadi ketika anak lebih banyak dititipkan kepada pengasuh atau asisten rumah tangga, sementara perhatian terhadap pola pengasuhan dan kebutuhan perkembangan anak tidak memadai.
“Sekarang ada juga orang kaya yang stunting. Kenapa? Karena tidak diperhatikan pengasuhan ketika ditinggal, dititipkan oleh asisten rumah tangga. Yang penting tidak nangis, dikasih asupan yang manis-manis, diam, dan ternyata, ada beberapa kasus (stunting)," katanya di Jakarta, Kamis.
Oleh karena itu, ia menekankan bahwa edukasi mengenai pengasuhan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pencegahan stunting selain pemenuhan gizi, air bersih, sanitasi, dan pencegahan perkawinan dini.
Menurutnya, pencegahan stunting perlu dilakukan secara menyeluruh karena penyebabnya tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu intervensi atau satu kementerian, misalnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang perlu berjalan beriringan dengan upaya memperbaiki sanitasi, akses air bersih, lingkungan tempat tinggal, serta pola pengasuhan.
Berdasarkan pendataan keluarga tahun 2025, dari 74,1 juta keluarga di seluruh Indonesia yang terdata berdasarkan nama dan alamat (by name by address), terdapat 8,1 juta keluarga berisiko stunting.
Oleh karena itu, Wihaji menekankan pentingnya edukasi mengenai pengasuhan yang dikaitkan dengan agenda pembangunan keluarga untuk meningkatkan kualitas generasi mendatang.
"Kependudukan intinya stabilitas demografi, keluarga intinya ketahanan keluarga, dan yang saya yakini, keluarga adalah unit paling rendah dan terkecil dalam sebuah negara, maka untuk memperbaiki negara, perbaiki keluarga, dimulai dari mana? Dari memastikan anak generasi ke depan yang lahir itu jangan sampai stunting," ucap Wihaji.